Roro Jonggrang adalah salah satu cerita rakyat Provinsi Jawa Tengah. Cerita ini ditulis ulang oleh S.M.I.L.E. Cerita Roro jonggrang diterbitkan oleh Kyta. cerita ini memiliki 3 tokoh yaitu Ayah Roro Jonggrang, Bondowoso, dan Roro Jonggrang. Cerita ini mengambil tema kekejaman Bondowoso dengan sifat yang buruk. Topik ceritanya Bondowoso yang ingin menikahi Roro Jonggrang. Sudut pandang cerita ini adalah orang ketiga.
Diceritakan terdapat dua buah kerajaan besar Pengging dan Baka. Prabu Baka adalah ayah dari Roro Jonggrang. Prabu Baka adalah raja yang sangat baik. Berbeda dengan kerajaan yang bernama kerajaan Pangging sifat yang sangat buruk. Kerajaan Pangging memiliki kesatria sakti bernama Bondowoso yang sangat kuat dan pasukan jin yang sangat sakti. Singkat cerita kerajaan prambanan diserang oleh kerajaan pangging yang ingin memperluas daerah kekuasaanya. Akhirnya Prabu Baka tewas di tangan Bandung Bondowoso setelah menduduki kerajaan Prambanan. Bandung Bondowoso tertarik dengan kecantikan Putri Raja Baka yaitu Roro Jonggrang untuk mempersuntingnya menjadi permaisuri Roro Jonggrang dalam kebingungan. Bagaimana mungkin menerima orang telah membunuh Ayahnya. Roro Jonggrang mendapat ide untuk mengajukan syarat untuk melamarnya.
Dua syarat yang diminta oleh R0ro Jonggrang adalah membuat sebuah sumur yang dinamakan sumur jalantunda dan 1000 candi yang dibuat dalam waktu semalam. Ia yakin Bandung Bonwoso tidak bisa memenuhi syaratnya. Malam harinya, Bandung Bondowoso dibantu oleh pasukan jinnya segera bekerja dalam waktu singkat bangunan candi sudah tersusun hampir seribu buah. Roro Jonggrang mengamati dari kejahuan dan merasa cemas karena waktu sudah menginjak tiga perempat malam. Dia akan membuat suasana menjadi seperti pagi. Hingga para jin menghentikan pembuatan candi roro jonggrang memanggil dayang-dayang untuk membakar jerami. membunyikan lesung, pasukan jin mengira fajar sudah menyising Bandung Bondowosopun merasa sangat kesal, mengetahui kegagalan Bodowoso. Dia tidak terima kekalahanya Roro Jonggrang kau telah berbuat curang. Oleh karena itu, engkau aku kutuk menjadi Arca yang didalam candi yang keseribu.
Dicerita tersebut penulis cukup baik dalam menggambarkann temacerita, penulis cukup baik juga dalam menulis latar dan waktu dalam cerita. Selain itu, penulis cukup berhasil menggambarkan sifta-sifat tokoh berhasil membuat cerita menjadi jelas dan menarik.
Dari cerita tersebut dapat diambil pelajaran bahwa kita sebagai manusia agar bijak dala menerima sesuatu dan mau menerima kewajiban dan tanggung jawab yang diberikan kepada kita dengan bijaksana dan kita harus bisa mengendalikan hawa nafsu kita. Cerita ini cocok untuk dibaca sebagai motivasi dan inspirasi serta megajarkan kita bertanggung jawab, selain itu, kiata belajar mengendalikan hawa nafsu dan menerima segala sesuatu dengan lapang dada.
