u3-cover-cerpenku-1
KETIKA ADAB MENJADI JALAN PULANG

KETIKA ADAB MENJADI JALAN PULANG

Namaku Raka. Aku sering merasa aku sudah cukup dewasa untuk menentukan sikap sendiri. Aku mampu berpendapat, cepat memahami teknologi, dan berani menyuarakan isi pikiranku. Namun satu hal yang sering luput kusadari: kedewasaan bukan hanya tentang keberanian berbicara, melainkan tentang adab dan tanggung jawab.

Di sekolah, aku dikenal sebagai siswa yang sering menunda. Bukan karena aku tidak mampu, tetapi karena aku terbiasa menunggu. Menunggu diingatkan, menunggu ditegur, menunggu disuruh. Selama belum ada suara guru yang memanggil namaku, aku merasa semuanya masih aman.

Pelajaran IPA bersama Bu Ratna selalu membuatku gelisah. Beliau dikenal tegas dan disiplin, Setiap aturan harus dijalankan, setiap tugas harus selesai tepat waktu.

“Raka, laporan praktikum kamu belum Ibu terima,” katanya suatu pagi dengan suara mantap.

Aku mengangguk singkat, tetapi hatiku memberontak. Rasanya seperti terus dikejar. Setiap pertemuan selalu ada yang ditagih: laporan, catatan, atau sikap. Dalam pikiranku yang sempit, ketegasan terasa seperti kemarahan.

Padahal jika kupikir ulang, Bu Ratna sudah mencoba berbagai cara. Ia pernah mengingatkan dengan lembut, memberi tenggat tambahan, bahkan menanyakan keadaanku secara pribadi. Namun aku tetap sama—menunda dan berharap lupa.

Hal serupa terjadi dalam urusan kedisiplinan. Setiap pagi guru mengingatkan hal-hal sederhana: membersihkan kelas, merapikan baju, menjaga lingkungan sekolah, dan membuang sampah pada tempatnya. Aku melakukannya, tetapi hanya jika diingatkan.

Tanpa pengawasan, tanggung jawab itu kembali kuabaikan. Aku baru menyadari, kedisiplinanku bukan lahir dari kesadaran, melainkan karena takut ditegur.

Berbeda dengan Pak Arif, guru Bahasa Indonesia yang selalu berbicara lembut. “Belajar itu proses, Raka. Tidak apa-apa pelan,” katanya suatu hari.

Raka langsung berubah. Ia bercanda, sesekali menyela dengan lelucon. Ia merasa Pak Arif bukan guru, melainkan teman sebaya. Batas sopan santun pun perlahan memudar. Teguran dianggap candaan, nasihat dianggap angin lalu.

Aku merasa aman menunda tugas, yakin akan selalu dimaklumi. Tanpa kusadari, aku bersikap tidak adil: membenci ketegasan, tetapi menyalahgunakan kelembutan.

Suatu sore, aku dipanggil ke ruang guru. Aku mengira akan dimarahi. Namun yang kutemui justru wajah-wajah lelah.

“Ibu lelah, Raka,” kata Bu Ratna pelan. “Bukan lelah mengajar, tapi lelah mengingatkan hal yang sama setiap hari.”

Pak Arif menambahkan, “Kalau disiplin hanya berjalan saat diingatkan, itu bukan disiplin. Itu hanya rutinitas tanpa kesadaran.”

Kalimat itu menancap kuat di hatiku. Aku teringat bagaimana guru-guru tampak seperti penagih hutang, padahal yang mereka tagih adalah tanggung jawabku sendiri.

Aku menunduk. “Maafkan saya, Pak, Bu. Saya salah. Saya menunggu diingatkan, padahal seharusnya sadar.”

Sejak hari itu, aku mencoba berubah. Aku membersihkan kelas tanpa disuruh, merapikan baju sebelum ditegur, menjaga lingkungan sekolah dengan kesadaran sendiri, dan mengumpulkan tugas tepat waktu.

Kini aku mengerti, guru bukan musuh saat mereka tegas, dan bukan teman sebaya saat mereka lembut. Guru adalah penuntun.

Aku akhirnya paham: adab adalah awal dari ilmu, dan kesadaran adalah kunci dari kedisiplinan.

Adab itulah yang menjadi jalan pulang bagiku—pulang pada sikap yang seharusnya.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait